Laman

Monday, 10 October 2011

Thursday, 6 October 2011

UPACARA PERINGATAN HUT RI KE-66 TINGGAKAT KOTA CIREBON

UPACARA PERINGATAN HUT RI KE-66 TINGGKAT KOTA CIREBON


Berlangsung di Alun-alun Kejaksan, Kota Cirebon Rabu (17/8/2011) pagi WIB, Walikota Subardi SPd bertindak selaku Inspektur Upacara pada Pengibaran Bendera Merah Putih memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66 Tingkat Kota Cirebon .
Upacara diawali dengan Pembacaan Teks Pancasila oleh Komandan Kodim 0614 Kota Cirebon Letkol Arh Eddy Widiyanto SIP, dilanjutkan dengan Pembacaan Teks UUD 1945 oleh Kajari Kota Cirebon Trijoko Sutanto, serta Pembacaan Teks Proklamasi oleh Ketua DPRD Kota Cirebon , Nazarudin Azis.
Rangkaian Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI berlanjut dengan Pengibaran Bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Cirebon, dimana salah seorang anggota Paskibraka yang bertugas membawa baki, menerima duplikat bendera Merah Putih yang diserahkan oleh Walikota Cirebon Subardi SPd.
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Walikota Cirebon Sunaryo HW Sip, Sekretaris Daerah Kota Cirebon H. Hassanudin Manaf , Unsur Muspida Kota Cirebon, para Staf Ahli, Asisten Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Kepala SKPD, Camat, Lurah, Tim Penggerak PKK dan Dharma Wanita Persatuan Kota Cirebon, Pensiunan Korps Pegawai, Veteran, Sesepuh Kota Cirebon, para tokoh agama, serta para peserta yang terdiri dari Unsur TNI, Polri, Satpol PP, Linmas, Pegawai Negeri Pemkot Cirebon, Pramuka, Organisasi Kepemudaan dan Pelajar.
Dalam kesempatan tersebut, Walikota Cirebon Subardi SPd menyampaikan, peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI Ke-66 yang kali ini bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan, mengambil tema “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup Dalam Ke-Bhinekaan Untuk Kokohkan Persatuan NKRI, Kita Sukseskan Kepemimpinan Indonesia Dalam Forum ASEAN Untuk Kokohkan Solidaritas ASEAN”.
“Melalui tema tersebut, kiranya dapat memberikan semangat, kesadaran dan arah perjuangan seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang memiliki ketangguhan ekonomi, politik, pertahanan keamanan, sosial dan budaya sehingga mampu mensejahterahkan rakyat secara berkeadilan di tengah tantangan global yang semakin berat”, ujarnya.
Lebih lanjut, beliau mengatakan tentang keberhasilan yang didapat selama ini adalah hasil kerja keras kita semua, dan dalam kesempatan tersebut Walikota Cirebon meminta maaf atas masih ada program yang belum terlaksana dengan baik, mudah-mudahan ke depan akan dapat terlaksana dengan baik dengan apa yang diharapkan oleh kita semua.

PENGUKUHAN PASKIBRAKA KOTA CIREBON TAHUN 2011

PENGUKUHAN PASKIBRAKA KOTA CIREBON TAHUN 2011


Walikota Cirebon Subardi Spd pada hari senin (15/8) melaksanakan pengukuhan 25 Anggota Pasukan Pengibar Bendera ( Paskibraka ) Kota Cirebon tahun 2011 di halaman Balikota Cirebon. Dalam kesempatan tersebut dihadiri oleh Wakil Walikota Cirebon Sunaryo HW Sip, Ketua dan Anggota DPRD Kota Cirebon, Unsur Muspida Kota Cirebon dan seluruh Pimpinan OPD kota Cirebon. Pengukuhan Paskibraka Kota Cirebon juga disaksikan oleh Ligiun Veteran Kota Cirebon serta para orang tua dari Paskibraka Kota Cirebon.
Upacara Pengukuhan Paskibraka Kota Cirebon dipimpin oleh Walikota Cirebon serta melakukan pengukuhan langsung dihadapan Paskibraka Kota Cirebon. Dalam sambutannya Walikota Cirebon mengucapkan ucapan terima kasih kepada para pelajar yang sudah terpilih menjadi Paskibraka Kota Cirebon yang sudah mengikuti tahapan penyeleksian dan latihan. Walikota menambahkan tidak mudah untuk menjadi Paskibraka Kota Cirebon dan Paskibraka Kota cirebon adalah orang-orang yang terpilih yang akan mendapatkan tanggung jawab dalam pelaksanaan Upacara 17 Agustus nanti.
Dalam kesempatan tersebut Walikota juga menyampaikan permintaan maaf atas apa yang diberikan saat ini, dikarenakan penghargaan dari pemerintah Kota Cirebon belum setimpal dengan apa yang sudah diberikan oleh para pelajar yang telah terpilih menjadi Paskibraka, mudah-mudah ke depan akan memberikan lebih baik lagi . Beban yang sangat berat dijalani untuk menjadi Paskibraka dan ini adalah sebagai renungan kepada pelaku sejarah yang telah memperjuangkan bangsa ini dengan pengorbanannya dan sebagai generasi penerus kita lanjutkan semangat serta perjuangannya. Walikota berharap dalam pelaksanaan upacara 17 Agustus 2011 akan berjalan dengan lancar.
Setelah melaksanakan kegiatan pengukuhan Paskibraka kota Cirebon Walikota berserta unsur Muspida Kota Cirebon melakukan silahturahmi dengan Para Legiun Veteran Kota Cirebon dalan kesempatan tersebut Wakil Walikota menyampaikan sambutannya dan menyampaikan rasa terima kasih atas apa yang sudah diperjuangkan oleh para Legiun Veteran dimasa perjuangannya dan Pemerintah Kota Cirebon terus memperhatikan para legiun veteran ini yang sudah berjuang mempertahankan negara Indonesia dari penjajah saat itu.

Sejarah Lagu Indonesia Raya

SEJARAH LAGU INDONESIA RAYA


Indonesia Raya adalah lagu kebangsaan Republik Indonesia. Lagu ini pertama kali diperkenalkan oleh komponisnya, Wage Rudolf Soepratman, pada tanggal 28 Oktober 1928 pada saat Kongres Pemuda II di Batavia. Lagu ini menandakan kelahiran pergerakan nasionalisme seluruh nusantara di Indonesia yang mendukung ide satu "Indonesia" sebagai penerus Hindia Belanda, daripada dipecah menjadi beberapa koloni.
Stanza pertama dari Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan ketika Indonesia mem[p]roklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.
Indonesia Raya dimainkan pada upacara bendera. Bendera Indonesia dinaikkan dengan khidmat dan gerakan yang diatur sedemikian supaya bendera mencapai puncak tiang bendera ketika lagu berakhir. Upacara bendera utama diadakan setiap tahun pada tanggal 17 Agustus untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Upacara ini dipimpin oleh Presiden Indonesia.
Ketika mempublikasikan Indonesia Raya tahun 1928, Wage Rudolf Soepratman dengan jelas menuliskan "lagu kebangsaan" di bawah judul Indonesia Raya. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.
Setelah dikumandangkan tahun 1928 dihadapan para peserta Kongres Pemuda II dengan biola, pemerintah kolonial Hindia Belanda segera melarang penyebutan lagu kebangsaan bagi Indonesia Raya. Meskipun demikian, para pemuda tidak gentar. Mereka menyanyikan lagu itu dengan mengucapkan "Mulia, Mulia!" (bukan "Merdeka, Merdeka!") pada refrein. Akan tetapi, tetap saja mereka menganggap lagu itu sebagai lagu kebangsaan. Selanjutnya lagu Indonesia Raya selalu dinyanyikan pada setiap rapat partai-partai politik. Setelah Indonesia merdeka, lagu itu ditetapkan sebagai lagu Kebangsaan perlambang persatuan bangsa.
Namun pada saat menjelaskan hasil Festival Film Indonesia (FFI) 2006 yang kontroversial dan pada kompas tahun 1990-an, Remy Sylado, seorang budayawan dan seniman senior Indonesia mengatakan bahwa lagu Indonesia Raya merupakan jiplakan dari sebuah lagu yang diciptakan tahun 1600-an berjudul Lekka Lekka Pinda Pinda. Kaye A. Solapung, seorang pengamat musik, menanggap tulisan Remy dalam Kompas tanggal 22 Desember 1991. Ia mengatakan bahwa Remy hanya sekadar mengulang tuduhan Amir Pasaribu pada tahun 1950-an. Ia juga mengatakan dengan mengutip Amir Pasaribu bahwa dalam literatur musik, ada lagu Lekka Lekka Pinda Pinda di Belanda, begitu pula Boola-Boola di Amerika Serikat. Solapung kemudian membedah lagu-lagu itu. Menurutnya, lagu Boola-boola dan Lekka Lekka tidak sama persis dengan Indonesia Raya, dengan hanya delapan ketuk yang sama. Begitu juga dengan penggunaan Chord yang jelas berbeda. Sehingga, ia menyimpulkan bahwa Indonesia Raya tidak menjiplak.

Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh WR Supratman dan dikumandangkan pertama kali di muka umum pada Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 di Jakarta (pada usia 25 tahun), dan disebarluaskan oleh koran Sin Po pada edisi bulan November 1928. Naskah tersebut ditulis oleh WR Supratman dengan Tangga Nada C (natural) dan dengan catatan Djangan Terlaloe Tjepat, sedangkan pada sumber lain telah ditulis oleh WR Supratman pada Tangga Nada G (sesuai kemampuan umum orang menyanyi pada rentang a - e) dan dengan irama Marcia , Jos Cleber (1950) menuliskan dengan irama Maestoso con bravura (kecepatan metronome 104).

Aransemen simfoni Jos Cleber (1950)
Secara musikal, lagu ini telah dimuliakan — justru — oleh orang Belanda (atau Belgia) bernama Jos Cleber (pada waktu itu ia berusia 34 tahun) yang tutup usia tahun 1999 pada usia 83 tahun. Setelah menerima permintaan Kepala Studio RRI Jakarta Jusuf Ronodipuro pada tahun 1950, Jos Cleber pun menyusun aransemen baru, yang penyempurnaannya ia lakukan setelah juga menerima masukan dari Presiden Soekarno.

Rekaman asli (1950) dan rekam ulang (1997)
Rekaman asli dari Jos Cleber tahun 1950 dari Orkes Cosmopolitan Jakarta, telah dimainkan dan direkam kembali secara digital di Australia tahun 1997 berdasarkan partitur Jos Cleber yang tersimpan di RRI Jakarta, oleh Victoria Philharmonic di bawah pengarahan Addie MS.

Sumber : http://www.wikipedia.org/

Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Peringatan Hari Sumpah Pemuda


Setiap tanggal 28 Oktober, Bangsa Indonesia selalu memperingati hari Sumpah Pemuda, tidak terkecuali tahun ini. Untuk peringatan hari Sumpah Pemuda tingkat Kota Cirebon, di tandai dengan Upacara Bendera di Alun-alun Kejaksandengan Inspektur Upacara Walikota Subardi, S.Pd. Dalam upacara tesebut petugas Pengibar Bendera dilakukan Oleh PASKIBRAKA KOTA CIREBON tahun 2010 dan dihadiri sejumlah organisasi kepemudaan yang ada di Kota Cirebon termasuk Purna Paskibraka Indonesia. Tidak hanya itu, sejumlah tamu undangan seperti unsur Muspida dan Anggota DPRD juga ikut menghadiri Upacara itu.
Dalam amanatnya, Walikota Subardi mengatakan, pada peringatan ke -82 Sumpah Pemuda ini, sebagai warga kota Cirebon harus bersyukur , karena pemuda Indonesia terus tumbuh berkembang mengisi hari ini dan membangun masa depan bangsa dengan karya, kreatifitas serta semangat kemajuan dan kebersamaan.
Bagi kaum muda Indonesia, Hari Sumpah Pemuda selalu memicu Inspirasi dan motivasi baru untuk memajukan bangsa Indonesia. Setiap tahun, kita berkesempatan merasakan kembali tekad semangat dan harapan pemuda-pemudi di zaman pergerakan indonesia yang bersatu : satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa indonesia.
Dalam kesempatan itu, Dia menyatakan cita-cita luhur telah merajut kemajemukan menjadi suatu keutuhan yang bertujuan merdeka dan bebas dari kekangan untuk menentukan masa depan sendiri. Para Pemuda-pemudi saat itu juga sangat sadar bahwa tuntutan mereka mensyaratkan tanggung jawab bersama yang terus menerus untuk membuktikan kemampuan bangsa ini mewujudkan harapan-harapan rakyatnya.
Tahun ini tema peringatan ke-82 Hari Sumpah Pemuda tahun ini adalah BANGUN KARAKTER PEMUDA DEMI BANGSA INDONESIA YANG MAJU DAN BERMARTABAT. Tema tersebut mengandung pesan bahwa langkah menuju Indonesia yang maju dan bermartabat sangat bregantung pada karakter pemuda yang kokoh diatas semangat persatuan dan kesatuan Indonesia.
BANGKITLAH PEMUDA INDONESIA...!!!!!

Jati Diri Paskibraka

Jati Diri Paskibraka

  Dalam Munas PPI II tahun 1995 di Lembang, Bandung, Kak Idik Sulaeman hadir sebagai nara sumber yang memberikan materi tentang Paskibraka. Saat itu ia hadir dengan senyum yang khas, sumringah dankebapakan. Sangat terasa betapa kasih sayang kepada anak-anak didiknya begitu tulus. Saat itu Kak Idik memakai jaket coklat muda. Ia memperkenalkan diri di depan forum dan kemudian berkata,“Adik-adik, izinkan saya membuka jaket.” Kak Idik lalu membuka jaketnya. Ternyata, di balik jaket itu, Kak Idik memakai baju seragam Pramuka lengkap dengan atributnya. Hampir semua Purna yang hadir di Munas itu tidak merespon. Pikir mereka, seorang penceramah memakai seragam Pramuka, itu hal biasa. Tak ada satu komentarpun terungkap sampai kak Idik selesai memberikan materinya. Padahal, di sana ada sesuatu yang tidak biasa: Seorang pembina memberikan materi tentangPaskibraka dalam balutan seragam Pramuka. Itu sebuah simbolisasi yang sebenarnya disengaja. Seperti kita tahu, Kak Mutahar dan Kak Idik sangat suka dengan simbolisasi-simbolisasi dalam gagasan dan konsep Paskibraka. Dan hari itu, Kak Idik berharap simbolisasi itu dapat ditangkap oleh para Purna Paskibraka. Bahwa dalam seragam putih-putih, anggota Paskibraka kelilhatan gagah dari luar. Tetapi di dalamnya harus ada jiwa yang terkandung, dan jiwa Paskibraka itu adalah jiwa Pandu, jiwa Pramuka. Lambang Pramuka berupa cikal bakal buah kelapa mengandung makna bahwa kehidupan seseorang harus selalu berguna bagi semua makhluk lain di bumi ini, bagi Negara dan bangsa, juga bagi sesama. Jiwa pengabdian yang tulus diharapkan tumbuh dari Paskibraka mengikuti jejak Pandu yang lebih dulu ada yaitu berbakti bagi nusa dan bangsa Indonesia dengan penuh ketulusan serta berakar dari seluruh lapisan masyarakat. Hal itu sangat sinkron dengan lambang anggota Paskibraka berupa bunga teratai yang sedang mekar. Lambang itu bermakna bahwa anggota Paskibraka adalah pemuda yang tumbuh dari bawah (orang biasa), dari tanah air Indonesia, yang sedang berkembang dan akhirnya akan mekar dengan indahnya menjadi pemimpin - pemimpin bangsa Indonesia.Walau berasal dari bawah dan tanah berlumpur namun bunganya saat mekar memberikan warna merah, putih dan warna-warni lain yang sangat elok sehingga memberikan nuansa keindahan bagi lingkungan di mana dia tumbuh dan berkembang. Mata rantai yang mengelilnginya melambangkanrangkaian/ikatan persaudaraan yang kuat antar sesama generasi muda Indonesia yang ada diberbagai pelosok penjuru tanah air, baik putra(bentuk bulat) maupun putri (bentuk belah ketupat). Ikatan itu akan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, dan tidak boleh putus hanya karena ada salah satu mata rantai yang lemah. Saat reuni Paskibraka 78 pada tahun 1994,Kak Idik sudah mengingatkan arti kekuatan rantai itu. Ia juga berpesan, agar bila ada rantai yang terputus, segeralah Paskibraka 78 mengambil inisiatif untuk menyambungnya kembali. Ajaklah teman-teman Paskibraka yang lain untuk melakukan hal serupa, maka yakinlah Paskibraka tidak akan terpecah belah. Simbolisasi yang ditunjukkan Kak Idik dengan memakai seragam Pramuka, memberi makna bahwa anggota Paskibraka harus bisa menjadi pandu di mana pun ia berada. Pandu artinya penunjuk arah. Sebagaimana lagu kebangsaan Indonesia Raya, kita harus mampu berdiri menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Pertanyaannya sekarang, sanggupkah kita menjadi Pandu Ibu Indonesia sebagaimana Ikrar Putera Indonesia yang pernah kita ucapkan dulu??


DETIK DETIK PROKLAMASI

DETIK DETIK PROKLAMASI
 

 Proklamasi Kemerdekaan, yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus, adalah sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia. Proklamasi, telah mengubah perjalanan sejarah, membangkitkan rakyat dalam semangat kebebasan. Merdeka dari segala bentuk penjajahan.Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.




Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat kediaman Bung Karno, berlangsung perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi (1984:58); Ahmad Soebardjo (1978:85-87).

Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan timbulnya banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda nampak tidak puas. Mereka mengambil kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.
Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta. Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan rencana mereka sendiri. Di sebuah pondok bambu berbentuk panggung di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas.


Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang harus dilaksanakan di Jakarta . Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali ke Jakarta (Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:82-83).
Merumuskan Teks Proklamasi

Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. Rumah Laksamada Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno dan tokoh-tokoh lainnya. De Graff yang dikutip Soebardjo (1978:60-61) melukiskan sikap Maeda seperti ini. Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.


Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan tokoh-tokoh lainnya, baik dari golongan tua maupun dari golongan pemuda, menunggu di serambi muka.

Setelah kelompok yang menyendiri di ruang makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo (1978:109-110) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi diketik, kami menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang dapur, yang telah disiapkan sebelumnya oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah diketik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya bercampur dengan beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri di samping saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka pertemuan dini hari itu dengan beberapa patah kata.

Naskah yang sudah diketik oleh Sajuti Melik, segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan timbul mengenai bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan kepada rakyat di seluruh Indonesia , dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut Soebardjo (1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondong-bondong ke lapangan IKADA pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi Soekarno menolak saran Sukarni. ” Tidak ,” kata Soekarno, ” lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya di Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden? Lapangan IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi.” Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.
Detik-Detik Proklamasi

Hari Jumat di bulan Ramadhan, pukul 05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia (Hatta, 1970:53).

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera yang dijahit dengan tangan oleh Nyonya Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak standar, karena kainnya berukuran tidak sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.
Sementara itu, rakyat yang telah mengetahui akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang sakit, malamnya panas dingin terus menerus dan baru tidur setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak berdatangan, rakyat yang telah menunggu sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian. Ia juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.
“Saudara-saudara sekalian! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seiya-sekata berpendapat, bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami:
PROKLAMASI; Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta , 17 Agustus 1945.
Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.
Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka. Negara Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu”. (Koesnodiprojo, 1951).
Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: ” lebih baik seorang prajurit ,” katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud mengambil bendera dari atas baki yang telah disediakan dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat. Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya.


Setelah upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi (1984:77) mengemukakan bahwa ada sepasukan barisan pelopor yang berjumlah kurang lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung Karno membacakan Proklamasi sekali lagi. Mendengar teriakan itu Bung Karno tidak sampai hati, ia keluar dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar keterangan itu Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.
Peristiwa besar bersejarah yang telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung hanya satu jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan yang luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. “Gema lonceng kemerdekaan” terdengar ke seluruh pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. Para pemuda, mahasiswa, serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei, sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.

"Sebagai generasi muda kita harus mengetahui sejarah para pendahulu kita dalam mendirikan Bangsa dan Negara Indonesia, semoga kita yang ada sekarang bisa berbuat yang terbaik untuk Bangsa dan Negara Indonesia Sehingga menjadi sejarah dimasa depan"
Oleh: MOH.RM Lamakarate

Referensi dari: Ruanghati .com Kilas Balik Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI 17  Agustus 1945

Total Pageviews